Peran Media Massa

21 Dec

PERAN MEDIA MASSA TERHADAP SOSIALISASI
PESERTA DIDIK DI SEKOLAH

Oleh:
Nadia Laksitaningtyas 100131404048
Administrasi Pendidikan 2010/ OFF A

Pembahasan

Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi merupakan suatu proses di mana seseorang menghayati norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbullah diri yang unik, karena pada awal kehidupan tidak ditemukan apa yang disebut dengan “diri”. Agen sosialisasi adalah pihak-pihak yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang utama, yaitu keluarga, kelompok sebaya, lembaga pendidikan sekolah dan media massa.
Keluarga merupakan agen pertama dalam sosialisasi yang ditemui oleh anak pada awal perkembangannya. Kemudian kelompok sebaya sebagai agen sosialisasi di mana anak akan belajar tentang pengaturan peran orang-orang yang berkedudukan sederajat. Sekolah sebagai agen sosialisasi merupakan institusi pendidikan di mana anak didik selama di sekolah akan mempelajari aspek kemandirian, prestasi, universalisme serta spesifisitas. Agen sosialisasi yang terakhir adalah media massa di mana melalui sosialisasi pesan-pesan dan simbol-simbol yang disampaikan oleh berbagai media akan menimbulkan berbagai pendapat pula dalam masyarakat.
Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi yang berlainan.

Media massa
Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.
Tv adalah salah satu media massa yang mempunyai peran penting dalam proses sosialisasi. Kehadiran TV dalam satu keluarga atau masyarakat dapat merupakan faktor pendukung maupun faktor penghambat dari suatu keluarga dalam menjalankan fungsinya yakni mensosialisasikan anak.
Contoh:
• Penayangan acara SmackDown! di televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam beberapa kasus.
• Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
Menurut pendapat Donald F.Robert (1973 :25) menyatakan bahawa media televisi mempunyai berbagai fungsi yakni :
Media fantasi
Kedudukan fantasi dalam kehidupan anak-anak sangat penting. Bagi anak-anak dunia fantasi sama eksistensinya dalam dunia nyata. Dengan berfantasi anak memperoleh kesempatan untuk mengembangakan imajinasinya dengan daya kreatifitasnya. Melalui fantasi anak akan mendapatkan kenyataan yang luar biasa.
Media diversi
Fungsi ini sama dengan fungsi bermain yang diperlakukan anak sebagai alternative untuk melepaskan diri dari mekanisme kehidupan sosial sehari-hari. Acara nyanyian , musik, film, drama merupakan program acara yang cenderung bersifat menghibur.

Media instruksi
Televisi merupakan media untuk memperoleh pengetahuan atau sebagai media pendidikan. Dari televisi anak akan memperoleh pengetahuan tentang norma, nilai, dan tata laku masyarakat yang diiternalisasikan ke dalam diri anak-anak dan akan menjadi pedoman dan kerangka berfikir dalam menilai baik buruknya suatu keadaan.
Media massa yang paling sering digunakan oleh peserta didik adalah televisi. Televisi lebih sering digunakan karena dengan media televisi dapat didengarkan suaranya bahkan dapat dilihat gambarnya, dengan demikian para peserta akan lebih tertarik.
Adanya media massa memang dapat meningkatkan sosialisasi peserta didik, namun harus tetap ada pengawasan. Media massa dapat memberikan dapak positif, namun apabila kurang pengawasan dapat berdampak negatif. Pengawasan dari orang tua pun harus dilakukan
Dilihat dari fungsi media massa, yang paling sering digunakan adalah fungsi media fantasi dan media diversi. Anak-anak lebih tertarik karena dari kedua fungsi tersebut siswa dapat menjadikannya sebagai sarana rekreasi setelah melakukan aktifitas yang menguras energi.

Metode Pembelajaran SDN Sumberbendo 4

21 Dec

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib di lakukan dan di berikan kepada anak-anak. Karena ia merupakan kunci sukses untuk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Saat ini banyak metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh para pendidik dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sehingga, para pendidik dapat menyesuaikan dengan keadaaan peserta didik. Dengan menyesuaikan metode pembelajaran maka dapat memberi hasil yang maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Metode mana yang paling sering digunakan dan juga bagaimana hasil yang diperoleh. Sehingga dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan suatu metode pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Metode pembelajaran apakah yang sering digunakan?
1.2.2 Apakah kekurangan dan kelebihan teori pembelajaran tersebut?
1.2.3 Apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan?

1.3 Tujuan
1.3.1 mengetahui metode yang sering digunakan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
1.3.2 mengetahui kekurangan dan kelebihan dari metode yang digunakan
1.3.3 Mengetahui haril dari metode yang digunakan


BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Teori Yang digunakan
Banyak terdapat metode pembelajaran, diantaranya ceramah/ ekspositori, eksperimen, demonstrasi, pemecahan masalah, diskusi, dan discovery.tetapi teori yang akan digunakan di sini adalah teori ceramah/ ekspositori.

2.1.1 Pengertian Teori Ceramah/ Ekspositori
Metode ceramah atau ekspositori adalah metode pembelajaran yang menggunakan cara memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh pendidik secara cermat.
Metode ekspositori merupakan metode pembelajaran yang mengarah kepada tersampaikannya pelajaran kepada peserta didik secara langsung. Siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta-fakta, konsep dan prinsip karena telah disampaikan secara jelas oleh pendidik.
Pada umumnya banyak pendidik yang menggabungkan antara metode ceramah dengan metode tanya jawab.metode ceramah banyak dipilih karena mudah dilaksanakan dengan persiapan sederhana hemat waktu dan tenaga dapat menjangkau semua siswa dan dapat dilakukan hanya didalam kelas
(Menurut Hasibuan dan Moedjiono dalam Sunar) metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajara dengan komunikasi lisan. Metode ceramah lebih efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi dan pengertian.
Kegiatan guru berbicara pada metode ekspositori hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada awal pembelajaran, menerangkan materi, memberikan contoh soal. Kegiatan siswa tidak hanya mendengarkan, membuat catatan, atau memperhatikan saja, tetapi mengerjakan soal-soal latihan, mungkin dalam kegiatan ini siswa saling bertanya. Mengerjakan soal latihan, saat kegiatan siswa mengerjakan latihan, kegiatan guru memeriksa pekerjaan siswa secara individual dan menjelaskan kembali secara individual. Apabila dipandang masih banyak pekerjaan siswa belum sempurna.
(Menurut Dimyati dan Mudjiono dala Sunar) mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah 1) menyusun program pembelajaran, 2) memberi informasi yang benar, 3) pemberi fasilitas yang baik, 4) pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan informasi. Sedangkan peranan siswa adalah 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai media dan sumber yang benar, 3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.

2.1.2 Waktu Penggunaan Metode ceramah
 Pendidik akan memberikan informasi
 Kapasitas kelas terlalu besar sehingga menyulitkan jika menggunakan metode lain.

2.1.3 Ciri Metode Ceramah
 Pendidik mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir
 Mempersiapkan pertanyaan dan mempertimbangkan dimana pertanyaan harus digunakan
 Tahap mengajar dengan peta konsep

BAB III
ANALISIS MASALAH

3.1 Permasalahan yang terjadi
3.1.1 Sudut Pandang Pendidik
Dengan menggunakan metode ceramah, masih ada peserta didik yang tidak memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh pendidik. Selain itu ilmu yang terserap juga tidak 100%, mungkin hanya 50-75% saja. Padahal metode ceramah adalah metode yang paling mudah untuk digunakan dalam mengajar. Dengan menggunakan metode lain seperti diskusi kurang pas untuk peserta didiknya. Untuk mengunakan metode seperti metode demonstrasi, peralatan yang ada masih sangat terbatas. Apalagi di daerah terpencil seperti di SDN Sumber Bendo 4. Bahkan banyak peserta didik yang meninggal buku pelajaran yang merupakan pinjaman dari sekolah di dalam loker bangku. Sehingga peserta didik tidak belajar dirumah, sehingga bila denga menggunakan metode diskusi kurang dapat berjalan dengan baik karena kurangnya persiapan materi pelajaran yang akan di bahas, Dengan peserta didik yang bisa membaca, menulis, dan berhitung saja sudah bagus. Karena kurangnya kesadaran akan pentingnya belajar, dalam artian sekolah.
3.1.2 Sudut Pandang Peserta Didik
Dengan menggunakan metode ceramah peserta didik sudah merasa cukup karena hanya dengan metode tersebut pendidik mengajar. Sehingga peserta didik sudah merasa puas dengan metode yang digunakan. Buku-buku pinjaman dari sekolah tidak dibawa pulang kerumah untuk belajar karena biasanya di rumah buku akan dicoret-coret oleh adik. Dan juga jarak antara rumah dan sekolah yang jauh dan ditempuh dengan jalan kaki, sehingga peserta didik enggan membawa pulang apalagi dengan datangnya musim hujan.

BAB IV
ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

4.1 Alternatif Pemecahan Masalah
Menggunakan metode ceramah merupakan metode yang paling efektof dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. Agar penyampaian materi pelajaran lebih efektif diberikan selingan-selingan agar peserta didik tidak jenuh, seperti guyonan ataupun cerita diluar pelajaran. Atau mungkin dapat menggunakan game diluar kelas agar para peserta didik semangat dalam belajar.
Mengenai buku yang di tinggal di loker bangku, mungkin memang agak sulit karena alasan yang digunakan untuk tidak membawa pulang buku juga tidak bisa disalahkan, para peserta didik mendapat buku hanya berupa pinjaman dari sekolah dan juga LKS,karena di daerah Sumber Bendo sangat jauh dari kota ± 45 km dari pusat kota. Bahkan harus melewati hutan.
Mengenai masalah hanya dengan pesrta didik dapat membaca, menulis dan berhitung sudah sangat bagus karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah mensosialisasikan ke[ada orang tua akan pentingnya pendidikan. Karena biasanya di daerah tersebut setiap musim panen banyak peserta didik yang tidak masuk karena membantu orang tuanya panen di sawah. Karena orang tua beranggapan bahwa yang penting kerja bisa mendapatkan uang banyak, untuk apa sekolah dengan menghabiskan uang banyak. Sehingga perlu mensosialisasikan pentingnya pendidikan kepada orang tua bahwa dengan pendidikan yang lebih tinggi dapat mendapatkkan pekerjaan yang lebih baik.
Karena kurangnya perhatian dari orang tua, saya salut dengan usaha mereka untuk meneruskan sekolah, banyak anak di daerah tersebut harus mencari uang sendiri untuk membeli peralatan sekolah. Bahkan banyak peserta didik yang sekolah tidak mengenakan sepatu tetapi mengenakan sandal,


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan: pendidik menggunakan metode ceramah karena merupakan metode yang paling efektif dari metode lain, meskipun hasil yang didapat kurang maksimal.
Saran:memberikan selingan dalam mengajar, sehingga pelajaran tidak hanya di dalam kelas tetapi juga dapat dilakukan diluar kelas. Bisa juga dengan memberikan selingan berupa game, tapi yang perlu diingat harus dapat membagi waktu sehingga pelajaran tetap dapat tersampaikan kepada peserta didik.  

Keselamatan Kerja

18 Dec
  1. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Pelaksanaan progaram keselamatan dan kesehatan kerja (P3K) di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 yang disebut sebagai UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA. Ini disebabkan dalam setiap pekerjaan, termasuk di dunia pendidikan, kecelakaan kerja seringkali sulit dihindari dan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.

  1. Pengertian dan Tujuan Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja meliputi perlindungan karyawan dari kecelakaan di tempat kerja. Sedangkan kesehatan merujuk pada kebebasan karyawan dari penyakit secara fisik maupun mental.

Program keselamatan kerja di rancang untuk menciptakan lingkungan dan perilaku kerja yang menunjang keselamatan dan keamanan itu sendiri, dan membangun dan mempertahankan lingkungan kerja fisik yang aman, yang dapat dirubah untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dapat dikurangi apabila karyawan secara sadar berpikir tentang keselamatan kerja.

  1. Pelaksanaan Program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Usaha keselamatan dan kesehatan kerja memerlukan partisipasi dan kerjasama dari semua pihak yaitu pemerintah, pengusaha, dan pekerja. Bentuk partisipasi yang memenuhi dasar pemikiran tersebut adalah partisipasi langsung dalam wadah panitia pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan dan di tempat-tempat kerja lainnya.

Untuk mengurangi kecelakaan yang diakibatkan oleh kecenderungan karyawan untuk berperilaku dan bersikap yang tidak diinginkan, dapat dikurangi melalui:

  1. Seleksi dan alat yang lain
  2. Penyebaran poster dan propaganda
  3. Pelatihan keselamatan
  4. Program insentif dan program penguatan yang positif
  5. Komitmen manajer puncak
  6. Penentuan kebijaksanaan dan mengendalikannya
  7. Melakukan pengawasan terhadap keselamatan dan kesehatan
  8. Memonitor pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat dan menimbulkan stress.

Sementara itu Flippo (1984) berpendapat bahwa tujuan program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan dapat dicapai, jika ada unsur-unsur yang mendukung, yaitu:

  1. Adanya dukungan dari pimpinan puncak

Dukungan manajemen ditandai dengan kehadiran secara pribadi pada rapat-rapat yang membahas masalah kesehatan, pemeriksaan pribadi secara periodik, penekanan pada laporan-laporan tetap tentang keselamatan dan pencantuman angka-angka keselamatan dan prestasi bidang keselamatan pada agenda rapat dewan direksi.

  1. Ditunjuknya direktur keselamatan

Perlu adanya pengangkatan seorang pimpinan yang bertanggung jawab untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikannya.

  1. Rekayasa pabrik dan kegiatan yang aman

Tindakan pencegahan untuk pengamanan biasanya memerlukan prosedur kerja yang lebih panjang atau usaha tambahan, dan orang seringkali cenderung mempersingkat cara kerja yang direkayasa itu.

  1. Diberikannya pendidikan bagi semua karyawan untuk bertindak aman

Berikut ini adalah cara yang dapat ditempuh untuk melakukan pendidikan:

1)      Pendidikan bagi karyawan baru

2)      Penekanan titik-titik keselamatan selama pelatihan, khususnya dalam pelatihan ditempat kerja

3)      Usaha-usaha khusus yang dilakukan oleh penyelia tingkat pertama

4)      Pembentukan komite keselamatan karyawan

5)      Pengadaan rapat-rapat khusus tentang keselamatan karyawan

6)      Penggunaan masalah perusahaan

7)      Bagan-bagan, poster, dan peragaan yang menitikberatkan kebutuhan untuk bertindak dengan aman

  1. Terpeliharanya catatan-catatan tentang kecelakaan

Pimpinan harus mengadakan dan menyimpan catatan-catatan yang diteliti sehubungan dengan jumlah kecelakaan, penyakit yang ditimbulkan pekerja, dan hilangnya hari-hari kerja.

 

  1. Menganalisis penyebab kecelakaan

Tingkat kecelakaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

 

x: Number of lost time accidents

y: Number of person hours worked during the periode

FR: Frequency Rate

  1. Kontes keselamatan

Kontes keselamatan dapat dianggap sebagai satu bentuk pendidikan karyawan, tetapi keduanya mempunyai perbedaan besar dalam pendekatan sehingga memerlukan pembahasan secara terpisah.

  1. Melaksanakan peraturan

Pendekatan pokok terhadap suatu program keselamatan pada hakikatnya haruslah bersifat positif, tetapi adalah naif untuk mengatakan bahwa tidak ada gunanya tindakan disipliner. Peringatan, denda, pemberhentian sementara dan pemecatan dalam keadaan tertentu sangat tepat digunakan untuk mengefektifkan suatu program keselamatan.C.    Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pelaksanaan progaram keselamatan dan kesehatan kerja (P3K) di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 yang disebut sebagai UNDANG-UNDANG KESELAMATAN KERJA. Ini disebabkan dalam setiap pekerjaan, termasuk di dunia pendidikan, kecelakaan kerja seringkali sulit dihindari dan bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
1.    Pengertian dan Tujuan Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja meliputi perlindungan karyawan dari kecelakaan di tempat kerja. Sedangkan kesehatan merujuk pada kebebasan karyawan dari penyakit secara fisik maupun mental.
Program keselamatan kerja di rancang untuk menciptakan lingkungan dan perilaku kerja yang menunjang keselamatan dan keamanan itu sendiri, dan membangun dan mempertahankan lingkungan kerja fisik yang aman, yang dapat dirubah untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dapat dikurangi apabila karyawan secara sadar berpikir tentang keselamatan kerja.
D.    Pelaksanaan Program Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Usaha keselamatan dan kesehatan kerja memerlukan partisipasi dan kerjasama dari semua pihak yaitu pemerintah, pengusaha, dan pekerja. Bentuk partisipasi yang memenuhi dasar pemikiran tersebut adalah partisipasi langsung dalam wadah panitia pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan dan di tempat-tempat kerja lainnya.
Untuk mengurangi kecelakaan yang diakibatkan oleh kecenderungan karyawan untuk berperilaku dan bersikap yang tidak diinginkan, dapat dikurangi melalui:
a.    Seleksi dan alat yang lain
b.    Penyebaran poster dan propaganda
c.    Pelatihan keselamatan
d.    Program insentif dan program penguatan yang positif
e.    Komitmen manajer puncak
f.    Penentuan kebijaksanaan dan mengendalikannya
g.    Melakukan pengawasan terhadap keselamatan dan kesehatan
h.    Memonitor pekerjaan-pekerjaan yang sangat berat dan menimbulkan stress.
Sementara itu Flippo (1984) berpendapat bahwa tujuan program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan dapat dicapai, jika ada unsur-unsur yang mendukung, yaitu:
a.    Adanya dukungan dari pimpinan puncak
Dukungan manajemen ditandai dengan kehadiran secara pribadi pada rapat-rapat yang membahas masalah kesehatan, pemeriksaan pribadi secara periodik, penekanan pada laporan-laporan tetap tentang keselamatan dan pencantuman angka-angka keselamatan dan prestasi bidang keselamatan pada agenda rapat dewan direksi.
b.    Ditunjuknya direktur keselamatan
Perlu adanya pengangkatan seorang pimpinan yang bertanggung jawab untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikannya.
c.    Rekayasa pabrik dan kegiatan yang aman
Tindakan pencegahan untuk pengamanan biasanya memerlukan prosedur kerja yang lebih panjang atau usaha tambahan, dan orang seringkali cenderung mempersingkat cara kerja yang direkayasa itu.
d.    Diberikannya pendidikan bagi semua karyawan untuk bertindak aman
Berikut ini adalah cara yang dapat ditempuh untuk melakukan pendidikan:
1)    Pendidikan bagi karyawan baru
2)    Penekanan titik-titik keselamatan selama pelatihan, khususnya dalam pelatihan ditempat kerja
3)    Usaha-usaha khusus yang dilakukan oleh penyelia tingkat pertama
4)    Pembentukan komite keselamatan karyawan
5)    Pengadaan rapat-rapat khusus tentang keselamatan karyawan
6)    Penggunaan masalah perusahaan
7)    Bagan-bagan, poster, dan peragaan yang menitikberatkan kebutuhan untuk bertindak dengan aman
e.    Terpeliharanya catatan-catatan tentang kecelakaan
Pimpinan harus mengadakan dan menyimpan catatan-catatan yang diteliti sehubungan dengan jumlah kecelakaan, penyakit yang ditimbulkan pekerja, dan hilangnya hari-hari kerja.

f.    Menganalisis penyebab kecelakaan
Tingkat kecelakaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

x: Number of lost time accidents
y: Number of person hours worked during the periode
FR: Frequency Rate
g.    Kontes keselamatan
Kontes keselamatan dapat dianggap sebagai satu bentuk pendidikan karyawan, tetapi keduanya mempunyai perbedaan besar dalam pendekatan sehingga memerlukan pembahasan secara terpisah.
h.    Melaksanakan peraturan
Pendekatan pokok terhadap suatu program keselamatan pada hakikatnya haruslah bersifat positif, tetapi adalah naif untuk mengatakan bahwa tidak ada gunanya tindakan disipliner. Peringatan, denda, pemberhentian sementara dan pemecatan dalam keadaan tertentu sangat tepat digunakan untuk mengefektifkan suatu program keselamatan.

Penilaian Berbasis Kelas

17 Dec

PENILAIAN BERBASIS KELAS

 

 

  1. Definisi atau Pengertian

Penilaian berbasis kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian berbasis kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian berbasis kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus.

Istilah penilaian berbasis kelas digunakan untuk menggambarkan suatu penilaian yang dilakukan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran. Penilaian berbasis kelas ini bisa dipandang sebagai proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil-hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian, pelaksanaan berkelanjutan, bukti-bukti otentik, akurat, dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Proses ini mengidentifikasi pencapaian kompetensi atau hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan.

Dalam penilaian berbasis kelas, penilaian diarahkan terhadap hasil belajar siswa, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Aspek kognitif berkaitan dengan kemampuan intelektual siswa, yang bila mengacu pada taxonomi Bloom, bisa diklasifikasi menjadi enam tingkatan, yaitu knowledge, atau recall (kemampuan mengingat), comprehension (kemampuan memahami), application (kemampuan penerapan), analysis (kemampuan menganalisis), synthesis (kemampuan menggabungkan), dan evaluation (kemampuan mengevaluasi). Aspek afektif berkaitan dengan sikap siswa, misalnya sikap terhadap belajar, rasa percaya diri, tanggung jawab dan sejenisnya. Sedangkan aspek psikomotor berkaitan dengan ketrampilan motorik siswa, baik motorik halus, seperti kemampuan berbicara, menulis, menggambar, menggunting, maupun motorik kasar, seperti kemampuan olah raga, kemampuan menggunakan alat, kemampuan memainkan alat musik, dan sejenisnya.

Dalam menilai performansi hasil belajar siswa, ada beberapa tipe penilaian yang bisa digunakan. Priestely (1982) dalam Wiyono (2004: 34) membedakan menjadi enam, yaitu penilaian performansi aktual (actual performance assesment), penilaian simulasi (simulation assesment), penilaian melalui pengamatan (observational assesment), penilaian oral (oral assesment), penilaian program (program requirement), dan penilaian melalui tes (paper and pencil assesment).

Penilaian performansi aktual dilakukan melalui pemberian tugas nyata kepada siswa dan menggunakan alat sesungguhnya (work simple). Penilaian simulasi dilakukan melalui tugas simulasi (simulated performance), misalnya diskusi, memperagakan, atau menggunakan alat tiruan. Penilaian pengamatan dilakukan melalui pengamatan perilaku yang bisa merupakan kombinasi tugas aktual dan simulasi, misalnya tugas pemecahan masalah. Penilaian oral dilakukan melalui respon oral, misalnya wawancara (interview), tanya jawab (question or answer) dan sejenisnya. Penilaian program dilakukan melalui berbagai tipe program requirement, misalnya catatan pribadi (personal record), porto folio (portfolio), dan sejenisnya. Sedangkan penilaian melalui tes dilakukan melalui tes, misalnya tes pilihan ganda, jawaban singkat, melengkapi, menjodohkan atau tes essai.

Dalam pedoman kurikulum berbasis kompetensi, ada lima yang dikemukakan dalam menilai performansi hasil belajar siswa, yaitu melalui portfolio (kumpulan hasil kerja siswa), penilaian performance (unjuk kerja), penilaian project (penugasan), product (hasil karya), dan paper and pen test (tes tertulis) (Puskur, 2002) dalam Wiyono 2004. Gambaran rancangan penilaian tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:

  1. Tujuan dan Fungsi Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian berbasis kelas secara umum bertujuan untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran. Secara rinci, tujuan penilaian berbasis kelas adalah untuk memberikan:

1)   informasi tentang kemajuan hasil belajar siswa secara individu dalam mencapai tujuan belajar sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukannya

2)   informasi yaang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar lebih lanjut, baik terhadap masing-masing siswa maupun terhadap siswa secara keseluruhan

3)   informasi yang dapat digunakan oleh guru dan siswa untuk mengetahui tingkat kemampaun siswa, menetapkan tingkat kesultian/kemudahan untuk melaksanakan kegiatan remedial, pendalamana, atau pengayaan

4)   motivasi belajar siswa dengan cara memberikan informasi tentang kemajuannya dan merancangnya untuk melakukan usaha pemantapan atau perbaikan

5)   informasi tentang semua aspek kemajuan setiap siswa dan pada gilirannya guru dapat membantu pertumbuhannya secara efektif untuk menjadi anggota masyarakat dan pribadi yang utuh, dan

6)   bimbingan yang tepat untuk memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan keterampilan, minat, dan kemampuannya.

Adapun fungsi penilaian berbasis kelas bagi siswa dan guru adalah sebagai berikut:

1)   untuk membantu siswa mewujudkan dirinya dengan mengubah atau mengembangkan perilakunya ke arah yang lebih baik dan maju

2)   untuk membantu siswa mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya

3)   untuk membantu guru menetapkan apakah mentode mengajar yang digunakan telah memadai, dan

4)   untuk membantu guru membuat pertimbangan dan keputusan administrasi.

  1. Prinsip-Prinsip Penilaian Berbasis Kelas

Prinsip dari penilaian berbasis kelas terdiri dari prinsip secara umum dan khusus. Prinsip umum penilaian berbasis kelas adalah sebagai berikut:

1)   Valid dan reliabel (Sahih dan terandalkan), penilaian berbasis kelas harus mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya, sahih, dan dapat diandalkan.

2)   Mendidik, penilaian harus memberi sumbangan positif terhadap pencapaian hasil belajar siswa. Penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan seabagai penghargaan yang motivasi bagi siswa yang berhasil dan menjadi pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil.

3)   Berorientasi pada kompetensi, penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.

4)   Adil dan objektif, penilaian harus adil dan objektif terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa yang tidak berkaitan dengan pencapaian hasil belajar. Untuk itu, perlu dibuat kriteria yang jelas sebagai dasar penskoran dan pengambilan keputusan.

5)   Terbuka, kriteria penilaian hendaknya terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

6)   Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap, teratur, terus-menerus, dan berkesinambungan untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. Hasil penilaian perlu dianalisis dan ditindaklanjuti. Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.

7)   Menyeluruh, penilaian terhadap hasil belajar siswa harus dilaksanaan menyeluruh, utuh, dan tuntas yang mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotorik, dampak pengiring, dan metakognitif serta berdasarkan pada berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa.

8)   Bermakna, penilaian hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

Prinsip khusus penilaian berbasis kelas adalah penilaian yang digunakan harus memberikan kesempatan terbaik kepada siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuannya. Implikasi dari prinsip ini adalah:

1)   pelaksanaan penilaian berbasis kelas hendaknya dalam suasana yang bersahabat dan tidak mengancam;

2)   semua siswa memperoleh kesempatan dan perlakuan yang sama dalam mengikuti pembelajaran dan selama proses penilaian;

3)   siswa memahami secara jelas apa yang dimaksud dalam penilaian; dan

4)   kriteria untuk mebuat keputusan atas hasil penilaian hendaknya disepakati dengan orang tua/wali.

Setiap guru harus mampu melaksanakan prosedur penilaian dan pencatatan secara tepat. Implikasi dari prinsip ini adalah:

1)   prosedur penilaian harus dapat diterima dan dipahami secara gelas oleh guru;

2)   prosedur penilaian dan catatan harian hasil belajar siswa hendaknya mudah dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran dan tidak menggunakan waktu yang berlebihan;

3)   catatan harian harus mudah dibuat, mudah dipahami, dan bermanfaat untuk perencanaan pembelajaran;

4)   informasi yang diperoleh untuk menilai semua pencapaian belajar siswa dengan berbagai cara harus digunakan sebagaimana mestinya;

5)   penilaian pencapaian hasil belajar yang bersifat positif untuk pembelajaran selanjutnya perlu direncanakan oleh guru dan siswa;

6)   klasifikasi dan kesulitan belajar harus ditentukan sehingga siswa mendapatkan bimbingan dan bantuan belajar yang sewajarnya;

7)   hasil penilaian hendaknya menunjukkan kemajuan dan keberlanjutan pencapaian hasil belajar siswa;

8)   penilaian semua aspek yang berkaitan dengan pembelajaran, misalnya efektivitas pembelajaran dan kurikulum perlu dilaksanakan;

9)   peningkatan keahlian guru sebagai konsekuensi dari diskusi pengalaman dan membandingkan metode dan hasil penilaian perlu dipertimbangkan; dan

10)    pelaporan penampilan siswa kepada orang tua atau wali dan atasannya (kepala sekolah, pengawas) dan instansi lain yang terkait seharusnya dilaksanakan.

  1. Macam-Macam Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian berbasis kelas terdiri dari beberapa macam, yaitu penilaian melalui protofolio (portfolio), penilaian melalui unjuk kerja, penilaian melalui penugasan (project), penilaian melalui hasil kerja, penilaian melalui tes tertulis (paper and pen test), dan penilaian afektif siswa.

  1. 1.    Penilaian Melalui Portofolio (Portfolio)

Penilaian portofolio (portofolio assesment) merupakan salah satu bentuk “performance assesment”. Portofolio (portfolio) adalah kumpulan hasil tugas/tes atau hasil karya siswa yang dikaitkan dengan standar atau kriteria yang telah ditentukan. Dengan kata lain, portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang sistematis dalam satu periode. Mardapi (2000) dalam Wiyono (2004: 35) mengemukakan bahwa portofolio (portfolio) adalah pengumpulan pekerjaan individu secara sistematis. Kumpulan hasil karya atau hasil pekerjaan tersebut merupakan refleksi kemajuan belajar dan berpikir siswa dan sekaligus menunjukkan prestasi dan ketrampilan siswa.

Penilaian portofolio (portfolio assesment) merupakan strategi untuk mengetahui kemampuan siswa yang sebenarnya, serta untuk mengetahui perkembangan siswa dalam bidang tertentu. Hasil kerja siswa diperbarui secara berkelanjutan yang mencerminkan perkembangan kemampuan siswa. Guru menggunakan penilaian portofolio sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Nilai diagnostik portofolio akan bisa diperoleh informasi tentang proses dan hasil belajar siswa.

Penilaian portofolio (portfolio assesment) dapat digunakan untuk menilai kemajuan belajar siswa dalam berbagai bidang studi, termasuk bidang bahasa, matematika atau ilmu pengetahuan alam. Portofolio juga dapat digunakan untuk menilai perkembangan siswa dalam bidang ilmu-ilmu sosial, misalnya menganalisis masalah-masalah sosial dan sejenisnya. Prinsip dalam penilaian portofolio (portfolio assesment) adalah dokumen atau data hasil pekerjaan siswa, baik berupa pekerjaan rumah, tugas atau tes tertulis seluruhnya digunakan untuk membuat inferensi kemampuan dan perkembangan kemampuan siswa. Informasi ini juga digunakan untuk menyusun strategi dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Jadi, portfolio adalah suatu metode pengukuran dengan melibatkan peserta didik untuk menilai kemajuannya dalam bidang studi tersebut. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian portofolio adalah sebagai berikut:

a)    Karya yang dikumpulkan adalah benar-benar karya yang bersangkutan.

b)   Menentukan contoh pekerjaan mana yang harus dikumpulkan.

c)    Mengumpulkan dan menyimpan sampel karya.

d)   Menentukan kriteria untuk menilai portofolio.

e)    Meminta peserta didik untuk menilai secara terus menerus hasil portofolionya.

f)    Merencanakan pertemuan dengan peserta didik yang dinilai.

g)   Dapat melibatkan orang tua dalam menilai portfolio.

Penilaian dengan portfolio memiliki karakteristik tertentu, sehingga penggunaannya juga harus sesuai dengan tujuan dan substansi yang diukur. Mata pelajaran yang memiliki banyak tugas dan jumlah peserta didik yang tidak banyak, penilaian dengan cara portfolio akan lebih cocok.

  1. 2.    Penilaian Melalui Unjuk Kerja (Performance)

Penilaian unjuk kerja (performance assesment) adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan terhadap kegiatan siswa. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, perilaku atau interaksi siswa. Cara penilaian ini lebih otentik daripada tes tulis, karena lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya (Puskur, 2002) dalam Wiyono (2004: 35).

Penilaian unjuk kerja bisa digunakan untuk menilai kemampuan siswa dalam penyajian lisan, pemecahan masalah dalam kelompok, partisipasi dalam diskusi, kemampuan siswa menari, kemampuan siswa menyanyi, memainkan alat musik, dan sebagainya. Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dengan berbagai konteks. Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam membuat penilaian unjuk kerja adalah:

  • Identifikasi semua langkah penting atau aspek yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir
  • Menulis kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas
  • Mengusahakan kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak, sehingga semua dapat dipahami
  • Mengurutkan kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang akan diamati
  • Menyediakan lembar pengamatan dan kriteria untuk setiap pilihan yang digunakan dalam lembar pengamatan atau penilaian

Penilaian hasil kerja dapat menggunakan daftar cek, skala penilaian atau rubik.

  1. Daftar cek, penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya – tidak). Pada penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati oleh penilai. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilai hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, dapat diamati-tidak dapat diamati. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah.

Contoh Daftar Cek Keterampilan Penggunaan Termometer

No.

Aktivitas yang Diamati

Ya

Tidak

1.

Mengeluarkan termometer dari tempatnya dengan memegang bagian ujung termometer yang tak berisi air raksa.

2.

Menurunkan posisi air raksa dalam pipa kapiler termometer serendah-rendahnya.

3.

Memasang termometer pada tubuh teman (di mulut atau di ketiak) sehingga bagian yang berisi air raksa terkontak degan tubuh pasien.

4.

Menunggu beberapa menit (membiarkan termometer menempel di tubuh pasien selama beberapa menit).

5.

Mengambil termometer dari tubuh pasien dengan memegang bagian ujung termometer yang tidak berisi air raksa.

6.

Membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler dengan posisi mata tegak lurus.

Skor yang dicapai

Skor maksimum

6

  1. Skala penilaian, penilaian unjuk kerja yang menggunakan skala rentang memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinuum di mana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala rentang tersebut, misalnya, sangat kompeten – kompeten – agak kompeten – tidak kompeten. Penilaian sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu penilai agar faktor subjektivitas dapat diperkecil dan hasil penilaian lebih akurat. Berikut contoh skala penilaian.

Contoh Skala Penilaian Keterampilan Penggunaan Termometer

No.

Aktivitas yang Diamati

Penilaian

1

2

3

4

5

1.

Mengeluarkan termometer dari tempatnya dengan memegang bagian ujung termometer yang tak berisi air raksa.

2.

Menurunkan posisi air raksa dalam pipa kapiler termometer serendah-rendahnya.

3.

Memasang termometer pada tubuh teman (di mulut atau di ketiak) sehingga bagian yang berisi air raksa terkontak degan tubuh pasien.

4.

Menunggu beberapa menit (membiarkan termometer menempel di tubuh pasien selama beberapa menit).

5.

Mengambil termometer dari tubuh pasien dengan memegang bagian ujung termometer yang tidak berisi air raksa.

6.

Membaca tinggi air raksa dalam pipa kapiler dengan posisi mata tegak lurus.
Skor yang dicapai
Skor maksimum

Tafsiran angka:

1: sangat kurang, 2: kurang, 3: cukup, 4: baik, 5: sangat baik.

  1. Rubik, adalah pedoman penskoran yang digunakan untuk menilai unjuk kerja siswa berdasarkan jumlah skor dari beberapa kriteria dan tidak hanya menggunakan satu skor saja. Ini memuat klasifikasi nilai yang dapat diberikan pada siswa sesuai dengan unjuk kerja yang ditampilkan. Banyak ahli yang meyakini bahwa rubrik bisa meningkatkan hail belajar siswa. Pada saat guru memeriksa hasil karya proyek, guru tersebut akan mengetahui secara implisit tentang bagaimana karya yang baik dan mengapa suatu karya digolongkan baik. Demikian halnya, pada saat siswa menerima rubrik lebih awal, mereka akan memahami bagaimana mereka akan dinilai dan mereka bisa mempersiapkan diri berdasarkan itu. Rubrik tersebut akan berfungsi sebagai scaffolding (acuan) yang dibutuhkan untuk meningkatkan mutu karya dan pengetahuan mereka.

Contoh Rubrik Penilaian Unjuk Kerja Perencanaan Penyelidikan

Nilai

Kriteria

4

Amat Baik

  • Merumuskan gagasan secara jelas dan memprediksi apa yang akan diuji.
  • Mengumpulkan informasi awal yang relevan.
  • Merencanakan pelaksanaan penyelidikan secara rinci.
  • Memilih alat dan bahan yang paling tepat.
  • Mengajukan saran perbaikan yang tepat untuk kebutuhan penyelidikan tersebut.

3

Baik

  • Merumuskan gagasan yang perlu diuji dalam percobaan/penyelidikan.
  • Merencanakan suatu urutan pelaksanaan penyelidikan.
  • Memilih alat dan bahan yang cocok.
  • Mengajukan saran perbaikan penyelidikan tersebut.

2

Cukup

  • Dengan bimbingan guru, dapat mengajukan gagasan sederhana yang akan diuji.
  • Merencanakan percobaan tunggal secara garis besar.
  • Memilih alat dan bahan yang cocok.
  • Dapat menunjukkan adanya kelemahan dari rencana yang dibuat.

1

Kurang

  • Dengan bimbingan guru, dapat mengajukan gagasan sederhana yang akan diuji.
  • Terdapat banyak kelemahan dalam rencana penyelidikan yang dibuat.
  • Alat dan bahan yang dipilih kurang sesuai.
  • Tidak menyadari adanya kelemahan dari rencana yang dibuat.

0

Sangat Kurang

  • Tidak dapat mengajukan gagasan yang secara benar.
  • Belum memahami langkah-langkah penyelidikan.
  • Alat dan bahan yang dipilih tidak sesuai.
  1. 3.    Penilaian Melalui Penugasan (Project)

Penilaian melalui tugas dilakukan terhadap tugas yang dilakukan siswa secara individual atau secara kelompok untuk periode tertentu. Tugas sering berkaitan dengan pengumpulan data/bahan, analisis data, penyajian data atau bahan, dan pembuatan laporan. Tugas dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan siswa dalam bidang tertentu, mengetahui kemampuan siswa menerapkan pengetahuan dalam penyelidikan tertentu, dan mengetahui kemampuan siswa dalam menginformasikan subjek tertentu secara jelas (Puskur, 2002) dalam Wiyono (2004: 36).

Penilaian tugas dapat dilakukan terhadap proses selama pengerjaan tugas atau terhadap hasil tugas akhir. Dengan demikian, guru bisa menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan daftar cek (checklist) atau skala penilaian (rating  scale).

Penilaian penugasan atau proyek merupakan penilaian untuk mendapatkan gambaran kemampuan menyeluruh/umum secara kontekstual, mengenai kemampuan siswa dalam menerapkan konsep dan pemahaman mata pelajaran tertentu. Penilaian terhadap suatu tugas yang mengandung aspek investigasi harus selesai dalam waktu tertentu. Investigasi dalam penugasan memuat beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data.

Contoh Rubrik Penilaian Tugas Proyek

Aspek

Kriteria dan Skor

3

2

1

Persiapan Jika memuat tujuan, topik, alasan, tempat penelitian, daftar pertanyaan dengan lengkap. Jika memuat tujuan, topik, alasan, tempat penelitian, daftar pertanyaan kurang lengkap. Jika memuat tujuan, topik, alasan, tempat penelitian, daftar pertanyaan tidak lengkap.
Pengumpulan Data Jika daftar pertanyaan dapat dilaksanakan semuanya dan data tercatat dengan rapi dan lengkap. Jika daftar pertanyaan dapat dilaksanakan semuanya, tetapi data tidak tercatat dengan rapi dan lengkap. Jika daftar pertanyaan tidak dapat dilaksanakan semuanya dan data tidak tercatat dengan rapi dan lengkap.
Pengolahan Data Jika pengolahan data sesuai tujuan penelitian. Jika pembahasan data kurang menggambarkan tujuan penelitian. Jika sekedar melaporkan hasil penelitian tanpa membahas data.
Pelaporan tertulis Jika sistematika penulisan benar, memuat saran, bahasa komunikatif. Jika sistematika penulisan benar, memuat saran, namum bahasa kurang komunikatif. Jika penulisan kurang sistematis, bahasa kurang komunikatif, kurang memuat saran.
  1. 4.    Penilaian Melalui Hasil Kerja (Product)

Penilaian hasil kerja adalah penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni, misalnya makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, pahatan), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, logam, dan sejenisnya. Penilaian produk ini tidak hanya melihat hasil akhir, tapi juga proses pembuatannya, misalnya kemampuan siswa menggunakan teknik menggambar, menggunakan peralatan dengan aman, membakar kue dengan baik, dan sejenisnya (Puskur, 2002) dalam Wiyono (2004: 36).

Pengembangan penilaian produk, bisa dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, pembuatan produk dan penilaian (appraisal). Penilaian tahap persiapan mencakup penilaian kemampuan siswa merencanakan, menggali, mengembangkan gagasan dan mendesain produk. Penilaian tahap pembuatan meliputi penilaian kemampuan siswa dalam menyeleksi dan menggunakan bahan atau alat. Penilaian tahap penilaian meliputi penilaian kemampuan siswa membuat produk sesuai dengan kegunaan dan kriteria yang ditetapkan.

Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan dalam setiap tahapan perlu diadakan penilaian yaitu:

1)   Tahap persiapan, meliputi: menilai kemampuan peserta didik merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.

2)   Tahap pembuatan (produk), meliputi: menilai kemampuan peserta didik menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.

3)   Tahap penilaian (appraisal), meliputi: menilai kemampuan peserta didik membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhi kriteria keindahan.

Penilaian produk akan menilai kemampuan siswa dalam:

1)   Bereksplorasi dan mengembangkan gagasan dalam merancang;

2)   Memilih bahan yang tepat;

3)   Menggunakan alat;

4)   Menunjukkan inovasi dan kreasi;

5)   Memilih bentuk dan gaya dalam karya seni.

Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.

1)   Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya dilakukan pada tahap appraisal.

2)   Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, biasanya dilakukan terhadap semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.

Contoh Format Penilaian Produk Alat Peraga

No.

Aspek yang Dinilai

Nilai

1

2

3

4

1.

Keaslian ide alat peraga

2.

Pengetahuan yang mendukung

3.

Alat dan bahan yang digunakan

4.

Cara pembuatan

5.

Penampilan alat peraga

6.

Kepraktisan penggunaan alat peraga

7.

Manfaat alat peraga

Jumlah

Skor Maksimum

28

Catatan:

Kolom nilai diisi dengan angka yang sesuai:

1 = kurang

2 = sedang

3 = baik

4 = amat baik

  1. 5.    Penilaian Melalui Tes Tertulis (Paper and Pen Test)

Tes tertulis adalah suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara tertulis. Secara umum, tes tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu tes obyektif dan tes subyektif (essai). Tes obyektif adalah tes tertulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang telah disediakan atau memberikan jawaban singkat terbatas. Sedangkan tes tertulis yang meminta siswa memberikan jawaban berupa uraian.

Tes obyektif digunakan untuk mengukur penguasaan siswa pada tingkatan batas terbatas. Ruang lingkupnya cenderung luas, tapi tidak menuntut penalaran siswa. Tes obyektif terdiri atas beberapa bentuk soal, antara lain meliputi tes benar salah (true false), tes pilihan ganda (multiple choice), tes menjodohkan (matching), tes melengkapi (completion), dan tes jawaban singkat (short answer).

Tes essai digunakan untuk menelaah siswa dalam mengorganisasikan pikirannya, mengemukakan ide dengan kalimatnya sendiri atau mengemukakan penalarannya. Ruang lingkup tes essai cenderung terbatas, namun bisa untuk mengungkapkan kemampuan siswa secara dalam. Secara umum, tes essai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tes uraian bebas dan uraian terbatas. Tes uraian bebas adalah tes essai yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab soal sesuai dengan sistematika siswa seluas-luasnya. Sedangkan tes uraian terbatas adalah tes essai yang butir soalnya memberikan batasan kepada siswa dalam menjawabnya.

Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

  • materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum;
  • konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas.
  • bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda.

Dalam mengembangkan spesifikasi tes kognitif, terdapat beberapa aspek yang perlu menjadi pertimbangan adalah sebagai berikut:

1)   Menentukan subjek yang akan dites, pengenalan siapa yang akan dikenai tes sangat perlu bagi pengembang tes. Hal ini perlu karena penguasaan pelajaran tertentu pada setiap ssiwa di jenjang berbeda akan berbeda pula.

2)   Menentukan tujuan pengukuran, merupakan hal penting dan yang menentukan dalam pengembangan tabel spesifikasi. Penyusunan suatu instrumen harus didasarkan pada tujuan tertentu. Oleh karena itu, tujuan pengukuran secara jelas harus dirumuskan sejak awal. Tes yang dimaksudkan untuk tujuan diagnostik tentunya akan berbeda dengan tes yang dimaksudkan untuk seleksi.

3)   Menentukan tipe soal yang akan digunakan. Dalam memilihi tipe soal yang akan digunakan, perlu dipertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Apakah tujuan pengukuran dapat dicapai;
  • Apakah waktu yang tersdia memadai; dan
  • Hubungan antara tipe soal yang digunakan dan tujuan tes, cara pemberian skor, pelaksanaan tes, dan pencetakan tes.

4)   Menentukan materi, terdapat dua kriteria yang perlu diperhatikan dalam menentukan materi tes yang akan digunakan, yaitu: adanya kesesuaian materi yang diujikan dengan materi yang telah diajarkan yang dimaksudkan untuk mengetahui siswa mana yang telah mencapai tingkatan pengeahuan tertentu yang disyaratkan sesuai dengan tuntutan kurikulum/silabus; dan materi tes hendaknya menghasilkan informasi atau data yang dapat dijadikan landasan dalam meningkatkan proses pembelajaran. Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam penentuan materi adalah: urgensi,  kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian.

5)   Menentukan jumlah soal, jumlah soal sangat ditentukan oleh beberapa komponen, yaitu: tipe soal, cakupan materi soal, dan jenis mata pelajaran.

6)   Menentukan sebaran soal, terdapat tiga hal penting yang perlu diperhatikan berkaitan dengan sebaran soal, yaitu:

  • jenjang kelas atau semester siswa yang akan dites: jika tes yang akan dilakukan adalah tes semester, maka sebaran butir soal berimbang pada semua cakupan materi yang akan diteskan; jika tesnya adalah tes kenaikan kelas, maka proporsi soal dari materi semester ganjil bisa 30% atau 40% dan ; jika tesnya adalah tes akhir untuk jenjangh sekolah dasar, maka proporsi antara materi kelas 4, 5, dan 6 bisa 2:3:5, atau 1:2:7.
  • aspek kognitif: jika tesnya mencakup C1, C2, dan C3 (dari Taksonomi Bloom), maka proporsi bisa 3:5:2, atau 1:2:1, atau 2:5:3.
  • tingkat kesukaran: proporsi antara soal-soal yang mudah, sedang, dan sukar bisa 3:5:2, atau 1:2:1, atau 2:5:3.

7)   Menyusun kisi-kisi, merupakan penjabaran dari tabel spesifikasi. Untuk membuat suatu format kisi-kisi, perlu diperhatikan syarat kisi-kisi, yaitu: kisi-kisi harus mewakili silabus secara proporsional dan tepat; komponen-komponennya diuraikan dengan jelas dan mudah dipahami, dan materi/bahan yang hendak ditanyakan dapat dibuat soalnya.

  1. 6.    Penilaian Afektif Siswa

Dalam rangka memperoleh hasil belajar yang optimal, selain mengukur kemampuan kognitif siswa, juga perlu mengukur afektif siswa. Ada dua komponen afektif yang penting untuk diukur, yaitu sikap dan minat siswa terhadap suatu pelajaran, termasuk pelajaran ilmu sosial. Sikap siswa terhadap pelajaran bisa positif bisa negatif, atau netral. Hal ini tidak bisa dikategorikan benar atau salah. Guru berkewajiban untuk membangkitkan dan meningkatkan minat siswa terhadap mata pelajaran, serta mengubah sikap negatif ke positif.

Sikap dapat dibentuk dan merupakan ekspresi perasaan, nilai, atau pandangan hidup yang terkait dengan kecenderungan bertindak seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen kognitif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.

Secara umum, ada dua hal yang perlu dinilai dalam kaitannya dengan ranah afektif, yakni (1) kompetensi afektif, dan (2) sikap dan minat siswa terhadap mata pelajaran dan pembelajaran. Kompetensi afektif yang dicapai dalam pembelajaran berkaitan dengan kemampuan siswa dalam:

  • memberikan respon atau reaksi terhadap nilai-nilai yang dihadapkan kepadanya;
    • menikmati atau menerima nilai, norma, serta objek yang mempunyai nilai etika dan estetika;
    • menilai (valuing) ditinjau dari segi baik buruk, adil tidak adil, indah tidak indah terhadap objek studi; dan
    • menerapkan atau mempraktikkan nilai, norma, etika, dan estetika dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap siswa merupakan aspek yang sangat berpengaruh terhadap keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Sikap positif terhadap sesuatu menyebabkan perasaan mampu. Minat berkaitan dengan kecenderungan hati terhadap sesuatu yang akan mendorong tindakan positif untuk menekuni dan meningkatkan intensitas kegiatan pada obyek tertentu.

Hello world!

17 Dec

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.